Lekas sembuh sepakbola di indonesia



Terhitung sudah 9 bulan, sejak terakhir kick off laga pamungkas liga 1 di mulai di bulan Maret. Pemerintah resmi memberhentikan Liga sepakbola kasta tertinggi Indonesia demi meminimalisir jumlah korban terjangkit Covid, laga itu mempertemukan antara Persib Bandung vs PS Sleman.
Saya sempat menertawakan dalam benak pribadi perihal bacot mereka yang over-acting tidak bisa hidup tanpa sepakbola, terlebih saya merujuk sabda living legend nya Persib, Sir Indra Thohir yang berkata: “Hirup lain saukur lalajo mengbal.” yang artinya hidup bukan sekedar menonton bola.
Penambahan saya yang membuat muak soal sepakbola di sisi lain karena Federasi yang masih berkutat dengan sekelebatan Mafia adalah mereka suporter yang over-acting, star syndrome dan menjadikan sepakbola untuk mendapuk nama mereka. Saya memiliki beberapa rencana untuk menghadapi karantina ialah dengan bermain game, tapi nyatanya ini tidak berhasil melenyapkan omong kosong yang ada, malah menambah beban mental karena mendapat pressure dan celotehan dari pemain lain.
Semakin hari, Pandemi semakin kusam untuk di tilik, banyak kabar burung yang bertebaran mengatakan jika Pandemi ini adalah permainan belaka, bisnis juga. Saya tidak tertarik dengan itu, hanya mempertambah rumit keadaan yang ada. Stress juga menghampiri beberapa insan manusia tatkala mereka di berhentikan bekerja, di putus kontrak kerja secara paksa dan pemerintah yang mengkarantina masyarakat yang tidak punya opsi lain untuk tetap menghidupi keluarga. Hubungan cintapun ikut menjadi korban dalam Pandemi ini, bayangkan saja soal mereka yang menjalin kasih secara long distance atau jarak jauh. Mereka sulit untuk bertemu. Sounds sucks ayy?!
Di masa-masa karantina, tentu kita akan merasakan jenuh, bosan dan terkadang memberontak melanggar protokol kesehatan yang ada dengan hang out ngopi bersama rekan rekan, itu pun jika rekan rekan kita meng-iya-kan ajakan kita. Jika tidak? Tersiksa lah kamu di koyak sepi.
Pemikiran saya yang menganggap bahwa saya tidak butuh tayangan jadwal olahraga sepakbola lokal ternyata terbukti salah, setelah kurang lebih bulan kemarin pasca saya memutuskan untuk mendatangi Faskes 1 untuk meminta surat rujukan ke psikiater dan di arahkan ke Poli Jiwa di salah satu RS di pusat Kota bandung dan mendapat diagnosa F33 PTSD(Post traumatic stress disorder), saya pikir saya butuh sepakbola lokal, meski sepakbola mancanegara masih di helat nyatanya tidak membantu saya menyalurkan emosi yang membuncah dari dada sampai memuncaki ubun ubun kepala. Adalah bagaimana kita menyalurkan emosional yang ada saat sepakbola Indonesia mempertemukan antara dua klub besar, ambil contoh kecil seperti Persib Bandung kontra Persija Jakarta. Saat kedua klub itu berlaga terutama di Bandung, jalanan kota akan menjadi sepi dan di hari itu pula lah yang menjadi hari bebas mengumpat.
Kita tidak bisa berteriak hanya sebatas di layar kaca ketika menonton sepakbola luar, mengingat jadwal pertandingan di langsungkan malam hari, dan euphoria yang ada pun berbeda lebih besar animo euphoria sepakbola Indonesia yang memiliki Pride tersendiri di kala tim kesayangan kita berlaga.
Menurut pemberitaan yang ada seharusnya sepakbola di Indonesia di laksanakan beberapa minggu kebelakang, terbentur izin yang (KATANYA) akan di laksanakan Pilkada maka dari itu sepakbola indonesia tidak di izinkan untuk di helat kembali, adapun kabar dari beberapa Media yang mengatakan liga akan berlangsung kembali november dan itupun masih saya ragukan secara pribadi mengingat pihak keamanan yang ada masih sibuk menghalau massa aksi penolakan omnibus law.
Tidak ada yang bisa kita lakukan, opsi sudah habis, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa, meski doa tanpa usaha adalah sia-sia setidaknya itu bisa meredam kebosanan kita menunggu titik temu liga 1.

Source: Youtube